Archive for October, 2011
Cinnamon Roll
Seharusnya sekarang lagi melototin slide-slide dan catatan kuliah buat UTS besok atau ngerjain soal Take Home UTS SC yg belum kelar, eeehhhhhh ini malah nda jelas searching sana-sini, mondar mandir di blog ini blog itu (“maklum lagi suntuk“, tiba2 pembaca yg budiman sekalian serempak berkata : “alasan itu mah”. hihihihihi.. baiklahhhh itu memang alasan saya, trus kenapa?? nah loh mulai dah keluar tanduknya). Au’ah, benar-benar makin malam makin error (asal jagan keterusan aja nih). Setelah jalan san-sini, dari situs satu ke situs lain, eeehhhh terdamparlah saya disebuah halaman yngasih tahu kalo ada makanan lebih tepatnya kudapan yg namanya Cinnamon Roll, yup Cinnamon Roll !! -melebay-
Apakah Cinnamon Roll itu (yg selanjutnya disingkat menjadi CR)? ya.. seperti yg sudah disebutkan, bahwa CR merupakan salah satu nama makanan yg kalo dilihat dari judulnya pasti ada sangkut pautnya sama kayu manis (ntah itu bahan ataupun bentuk. Tapi kali ini kayu manisnya itu merujuk ke bahannya)
Sudahkah saya mencoba resepnya? oh tentu belumm.. hihihihi yaiyalah orang baru tau kalo ada makanan berjudul CR aja barusan (baca :tengah malam ), kapan yaaa.. saya bisa buat? (langsung cek jadwal kegiatan syuting sabtu-minggu). Berhubung karena saya belum pernah nyoba jadi resepnya tidak saya tulis di sini silahkan menta petunjuk sama mbah sakti mandra guna untuk mengetahui lebih lanjut. Sebagai gantinya potonya aja ya yg dijembreng di mari… cekidottttt
kalau yang ini versi modifikasi
Tuh kan, lihat gambarnya aja bikin perut jadi krucuk-krucuk (ahhahaha, ini mah karena emang dasarnya kelaperan
)
Ya, mudah-mudahan nanti ada kesempatan lah buat nih kue
Kembali belajar lagi ahhh, yosh!!
Hati-Hati Mengendarai Motor Saat Menggunakan Helm Kaca Tertutup di Malam Hari
Eh judulnya ga rancu kan? ngerti maksudnya kan? (apa coba??)
Postingan kali ini bukan mau berbagi tips, tapi mau berbagi (kalo bahasa gahool nya sharing) pengalaman
Barusan dari tempat sodara di Tegal Telga setelah berpundung ria sama konser dadakan di depan kosan untuk mengambil surat-surat motor yang sudah diperpajang. Berangkat ke sana sekitar jam 8 malam. Berhubung karena mata ini makin hari makin ga bisa diajak kompromi minusnya, maka jika saya keluar di malam hari saya sering menggunakan softlens dan hal tsb mengharuskan saya menutup kaca helm ketika mengendara agar mata dan softlens-nya ga jerit2 minta tolong karena kekeringan.
Dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, berangkatlah saya ke Tegal Lega denga melewati rute Kosan-terusan Bubat-BKR-Tegal Lega. Ketika melewati lampu merah tol Buah Batu, disinalah sebenarnya cerita ini mulai (tssahh), kebetulan kendaraan dari arah berlawanan lagi banyak-banyaknya sehingga intensitas cahaya yg memendar di kaca helm sangat tiggi sehingga penglihatan menjadi agak silau, di depan ternyata ada seorang bapak yg lagi ingin menyebrang :O, kebayang doooongggggg bagaimana dag dig dug duarrrrr-nya saya. tapi alhamdulillah motor saya tidak melaju dengan kencang sehingga saya masih bisa mengerem dan mempersilahkan beliau untuk menyebrang terlebih dahulu. Setelah itu, Lanjuttt lagi
Kendaraan yg ada di depan saya adalah bus pariwisata yagn saling beriringan (jadi susunannya bus 1-bus 2- lalu saya).Setelah beriringan beberapa meter, saya berniat untuk menyalip bus tersebut(sumfehhh bisa-bisa sesak nafas awak kambuh di tengah jalan kalo milih di belakang bus ini terus). Bus pertama sudah di lewati, sekarang giliran bus kedua. Kebetulan bus tersebut, jalannya lebih rada ke tengah jalan dibanding bus yg pertama tadi, tapi berhubung ga terlalu rame, saya tetap berusaha unutk menyalip bus tersebut (toh jalan disebelah yg tersisa masih muat 1 biji motor buat nyalib
). Ketika sedang beriringan jalan dengan bus tersebut, tiba-tiba jleduggg, omigotttt, ternyata jalanan yg saya lewati tersebut merupakan lubang menganga di antara aspal mulus (sakit bangetttt nih belakang). Ya, lagi-lagi karena cahaya dari kendaraan yg dari arah berlawanan yg berpendar di kaca helm saya, sehingga saya tidak bisa melihat dengan jelas jalan di depan saya. Tapi alhamdulillah saat itu, saya tidak terlalu ngebut pas nyalip sehingga saya masih bisa menjaga keseimbangan motor pada saat terguncang (coba kalo ga, sebelah kiri ada bus, sebelah kanan separator jalan hiiiii). setelah kejadian itu, akhirnya motor pun saya kendarai dengan ngesott pelan.
Pulang dari Tegal Lega, masih rada parno dengan kejadian sebelumnya akhirnya bawa motornya pun pelan dan alhamdulillah di jalan tak ada hambatan berarti sampai akhirnya saya memasuki kawasan kampus, ketika di dekat tikungan setelah melewati pintu gerbang buat motor di kampus tercintahhh (intensitas sinar lampu yg ditangkap oleh kaca helm saya mulai tinggi lagi), dannn lagi-lagi penglihatan saya ke jalan menjadi gelap dan ujung-unjungnya saya tidak melihat polisi yg sedang tidur-tiduran secara liar di jalan (sumpehhhh yaaa heran deh sama polisi tidur di sekitar kampus saat ini, udah berasa pengganti pagar deh, udah berasa jadi batas kavling tanah. mana bentuknya udah mo ngalahin tingginya tangkuban perahu pulaaakkk, ckckckckckck)Saaakitttt bgt nih punggung, untung ga ada mobil dari arah berlawanan (soalnya motornya bener2 jadi oleng dan mencla-mencle ke arah kanan), jadinya motornya di buat lebih ngesot pelan lagi dan alhamdulillah saya pun sampai lagi di kosan dengna selamat.
Begitulah sepenggal pengalaman melati (bukan nama sebenarnya eeehhhh) dari saya tentang beberapa insiden yg terjadi karena pengaruh cahaya yg memendar di kaca helm yg mengakibatkan penglihatan jadi silau. Sebenarnya bukan 3 kejadian itu saja yg berhubgungan dengan kesilauan yg sering saya alami jika mneggunakan helm kaca tertutup. So mulai sekarang mari berhati- hati mengendarai motor ()bukan cuma pada saat malam hari saja, tapi di setiap waktu
NB : tadi pagi juga dapat oleh2 waktu pulang dari pasar Kordon. Kaki tergores/teriris sama standar motor yg lupa dinaikkan trus motornya di tarik/dorong ke belakang. Aseli,, pengen nangis, untung masih ingat kalo lagi di t4 umum jadi nagnisnya ditahan sekuat tenaga (nyut nyutnya tuh serasa ampe ke jantung). Akhirnya ditolong sama bapak tukang parkir trus didiamin beberapa menit baru dah chaw kembali ke kosan:D
Sokko’
Kalau Anda adalah orang Sulsel (khususnya bugis), punya kerabat orang Sulsel, atau pernah tinggal di daerah Sulawesi Selatan, pasti pernah mencicipi makanan yang terbuat dari beras ketan yang di beri santan. Yups, di daerah Bugis dan Enrekang makanan tersebut disebut sokko’ sedangkan di daerah Makassar dinamai songkolo’. Di daerah Bugis, makanan ini biasanya sering kita jumpai pada acara hajatan (selain nikahan), syukuran, ataupun acara adat.
Berikut in imerupakan cara membuat sokko’
Bahan
- Beras ketan (putih, hitam, ataupun merah)
- Santan kental
- garam secukupnya.
Cara Membuat :
- Beras dicuci lalu direndam minimal 3 jam (tergantung jenis berasnya)
- Setelah beras agak lunak (di pencet tidak terlalu keras), cuci kembali lalu kukus sampai tidak berbiji-biji (kalau butirannya di tekan sudah tidak ada ciri berasnya lagi) angkat, sisihkan dalam wadah
- campurkan santan dan garam
- siram beras yg telah disisihkan tadi dengan santan secara perlahan-lahan sambil diaduk rata
- kukus kembali sampai matang
Catatan :
- Kalau dilihat dari cara membuatnya, bisa ditebak kalau sokko’ tersebut adalah makanan pengganti nasi biasa yang biasanya dimaakn beserta lauk. Untuk daerah bugis, biasanya sokko’ itu disajikan dengan nasu palekko’ (masakan yg terbuat dari itik), nasu likku’ (masakan yg terbuat dari ayam yg dicampur dengan lengkuas, jadinya mirip2 dengan serundeng), sambal goreng teri, telur rebus, ataupun ikan kering + sambalnya. Di daerah Amparita, sokko’ tersebut dimakan dengan mangga masak dan saya suka
(heww?? ga usah heran, bahakan orang bugis di daerah lainpun kadang heran mendengar duet sokko’-mangga masak. Kalo saya sihh,, dulu udah terbiasa pas masih tinggal di Amparita jadi yaaaa cocok dan suka-suka aja tuh. hehhehehe) - Untuk santan, bisa menggunakan santan instan kara (panjang umurlah ibu/bapak yg punya ide membuat santan dalam kemasan sehingga saya tak perlu cuape-capek lagi unutk memarut kelapa
) - sebaikknya santan disiramkan ke beras pada saat beras masih dalam keadaan panas-panas.
Cerita
baru ‘ngeh’ apa yg mereka ceritakan waktu itu
baru ‘ngeh’ siapa yg mereka ceritakan waktu itu
baru ‘ngeh’ setelah bertahun-tahun cerita itu terceritakan
bener-bener baru ngeh!
aaahhhh…. saya kangen dengan para wanita itu
ingin sekali rasanya berbagi cerita dengan mereka
Nano-Nano
Tadi pagi : biasa-biasa menuju gembira campur BT dikit
Tadi siang : BT2 menuju biasa
Tadi soreh : Panik rada galau (beda2 tipis lah yaaa tapi tetep ada beda dikit, kalo menurut kau sih ), gembira
Ba’da Maghrib : emosi tingkat tinggi
Ba’da isya : ketawa-ketawa ga jelas
Makin malam : ga ada angin ga ada hujan,tiba-tiba ngerasa ga tenang, cemas ga jelas + pengen nangis :’( . Ya Allah, semoga tak ada sesuatu hal buruk yang bakal terjadi di luar sana. Aaamiiinnn
Golongan Darah Berubah, Mungkinkah?
“Mungkinkahhhh.. kita kan slalu bersama.. walau terbentang jarak antara kitaaaa”
halah halah halah.. .. abaikan tulisan di atas
Kenapa tiba-tiba saya bertanya seperti judul postingan kali ini? jadi ceritanya hari ini saya periksa darah. Waktu diperiksa, golongan darahnya ampe diperiksa 2 kali (biasa aja sih sebenarnya, sayanya aja yg lebay ekekekekke). Sudah bukan rahasia lagi buat yg sudah tahu, sejak SLTP kelas 2 dengan resmi saya dinyatakan bergolongan darah A (tepatnya A0 rh+). Dimana golongan darah tersebut saya warisi dari perpanduan darah bapak saya (AB) dan mama saya (B). Tapi tadi pagi, pada saat periksa golongan darah, mbak yg periksa rada ragu, karena pada saat sampel darah saya di tetesi antigen A (sangat menggumpal) dan waktu ditetesin antigen B (tampak ada gumpal2 dikit sih, tapi ga semenggumpal yg A yg memang gumpalannya boleh dikata lebih gede dari butiran pasir pantai), akhirnya darahnya diperiksa lagi. Waktu pemeriksaan kedua, mbaknya juga rada2 mikir dulu baru mantepin hati kalo saya tetap bergolongan darah A
Karena kejadian tersebut, saya jadi ingat sama cerita salah satu nenek saya (omnya mama), setelah berpuluh-puluh tahun dicap sebagai orang bergolongan darah B, tiba giliran mau ngedonorin darah, pas dicek golongan darah beliau malah 0
. Akhirnya rasa penasaran ini tak ditahan lagi (ZzzZZZZzzz) akhirnya sayapun bertanya sama mbah tentang kemungkinan terjadinya pergantian golongan darah. Menurut beberapa sumber yang saya baca ada beberapa orang yg mengalaminya (tapi keterangannnya kurang bisa dipertanggung jawabkan secara ilmiah, soalnya yg saya baca itu pengakuan di blog pribadi dan forum-forum diluar sana).
Trus, kesimpulannya apa? jawabannya? Hanya Sang Maha penguasa jagad raya ini yang tahu
mari kita tunggu saja, siapa tahu ada dokter yang mampir di mari trus sudi memberikan penjelasan sesuai dengan ilmu di bidang kedokteran
Teh Madu Selasih
Bahan :
- Teh hijau
- Madu
- Selasi
- Air hangat/panas
Cara membuat :
- Seduh teh seperti biasa
- campurkan madu dan selasi
- jadi deh
Catatan :
- masalah takaran, disesuaikan dengan selera masing2 ya….
. Kalau saya sih, suka yg tehnya lebih sepet lebih baik. - resepnya dikasi sama Eva, ‘Makasih ya Va…’
- Oiya, menurut mamanya Eva, biji selasih itu bagus untuk daya tahan tubuh. Tapi untuk lebih jelas dan lebih lengkapnya, tanya mbah tentang manfaat selasih aja ya
- Mungkin pada nanya, teh hijaunya bisa diganti ga pake teh2 yg lain?, boleh2 aja sih kayaknya (ujung2nya kembali lagi ke selera dan stok masing2). Kalo saya berhubung karena emang lebih suka minum teh ijo daripada teh biasa (Soalnya klo teh ijo lebih terasa sepet, paitnya, dan lebih harum ) dan stok yang ada itu teh ijo(pengganti kopi euy, kalo mau ngeronda sama tugas yg bejibun. Soalnya nih badan suka gementeran ga jelas kalo di kasi kopi
) - oiya, dengan menggunakan prinsip mak irit.. sisa/ampas teh tadi bagus loh dijadiin masker atau kalo ga direndam lagi dengan air hangat trus dipake cuci muka (tentunya setelah airnya dinign
enak loh bawaannya dimuka sama di tangan)
Enak diminum pas lagi dingin2 atau badan lagi capek



